Hikmah Perilaku Jujur - Kejujuran menyelamatkan dari murka Allah
Dalam
sebuah hadis panjang, yang berasal dari Syihab diceritakan bahwa ketika
Rasul kan melakukan ghazwah (penyerangan) ke Tabuk untuk menyerang
tentara Romawi dan orang-orang Kristen di negeri Syam, salah seorang
sahabat yang bernama Ka'ab bin Malik mangkir dari pasukan perang, Ka'ab
menceritakan bahwa ia mangkir dari peperangan tersebut bukan karena ia
sakit ataupun ada suatu masalah tertentu, bahkan menurutnya hari itu
justru ia sedang dalam kondisi prima bahkan lebih prima dari hari-hari
sbelumnya. Tetapi entah mengapa ia merasa enggan untuk bergabung bersama
pasukan Rasul sampai akhirnya Ka'ab bin Malik ditinggalkan oleh pasukan
Rasul. Sekembalinya pasukan Rasul ke Madinah iapun bergegas menemui
Rasul dan berkata jujur tentang apa yang ia lakukan, akibatnya Rasul
menjadi murka begitu pula shahabat-shahabat lainnya. Iapun dikucilkan
bahkan diperlakukan seperti bukan orang Islam, sampai-sampai Rasul
memerintahkannya untuk berpisah dengan istrinya. Setelah 50 hari
berselang maka turunlah wahyu kepada Rasulullah Saw. yang menjelaskan
bahwa Allah telah menerima taubatnya Ka'ab dan dua orang lainnya: “Allah benar-benar telah menerima taubatnya Nabi, orang-orang muhajirin dan anshor yang mengikutinya dalam saat-saat sulit setelah hampir-hampir saja hati sebagian mereka bermasalah lalu Allah menerima taubat mereka dan taubat tiga orang yang mangkir dari jihad sampai-sampai mereka merasa sumpek dan menderita, sesungguhnya Allah maha pengasih dan penyayang”
Ketika ia diberi kabar gembira bahwa Allah telah menerima taubatnya, dan Rasul telah memaafkannya ia Ka'ab berkata:
“Ka'ab berkata demi Allah tidak ada ni'mat terbesar dari Allah setelah ni'mat hidayah Islam selain kejujuranku kepada Rasulullah dan ketidak bohonganku kepada beliau sehingga saya tidak binasa seperti orang-orang yang berdusta, sesungguhnya Allah Swt. berkata tentang mereka yang berdusta dengan seburuk-buruk perkata".
Tidak ada komentar:
Posting Komentar